Jakarta, PagiPagi — SpaceX menerbangkan roket Starship untuk ke-14 kalinya pada Senin, 28 September 2026, dari Starbase, Texas. Untuk pertama kali, tahap atas roket itu mencapai orbit penuh Bumi dan melepas 26 satelit Starlink generasi terbaru.
Penerbangan ini tidak berjalan mulus. Satu mesin mati lebih cepat, misi sempat nyaris dibatalkan, dan rencana awal yang 10 jam dipangkas jadi sekitar tiga jam.
Meski begitu, SpaceX mencatat satu tonggak yang mereka kejar sejak lama.
Kenapa “baru sekarang”
Pada 13 penerbangan sebelumnya, SpaceX sengaja menahan kemampuan Starship agar hanya terbang di lintasan suborbital. Roket itu cukup cepat untuk naik tinggi, tapi belum cukup cepat untuk mengelilingi Bumi — jadi gravitasi menariknya kembali.
Ars Technica menggambarkannya begini: Starship sebenarnya sudah menempuh 99 persen jalan menuju orbit rendah Bumi. Penerbangan Senin menambahkan 1 persen terakhir.
Dan 1 persen itulah bagian tersulit, karena soal kecepatan, bukan ketinggian.
Laman resmi SpaceX menjelaskan hal itu dengan cara sederhana. Untuk bertahan di orbit, sebuah benda bukan sekadar harus naik cukup tinggi, tapi bergerak menyamping cukup cepat — sekitar 17.500 mil per jam (kira-kira 28.000 kilometer per jam) di orbit rendah Bumi. Dengan kecepatan itu, meski gravitasi menariknya ke bawah, permukaan Bumi melengkung menjauh dengan laju yang sama.
Angka itu cocok dengan yang disebut CNN Indonesia untuk misi ini, yaitu kecepatan sekitar 28.000 kilometer per jam. Dua sumber yang berbeda menyebut angka yang sama.
Apa yang terjadi
Starship lepas landas dengan 33 mesin Raptor berbahan bakar metana. Tinggi roket ini 124 meter, dan daya dorongnya mencapai 18 juta pon. Booster Super Heavy kembali ke Bumi dan mendarat lunak di Teluk Meksiko, lepas pantai Starbase.
Masalah muncul di tahap atas. Satu dari enam mesin Raptor mati lebih cepat, dan lima mesin sisanya membakar lebih lama sebagai penyeimbang. Ars Technica juga mencatat dua dari 33 mesin Raptor di booster dilaporkan bermasalah.
Tim kendali misi sempat mengumumkan akan membatalkan pembakaran untuk masuk orbit. Setelah beberapa menit menegangkan, mereka memutuskan lanjut. Mesin yang dipakai untuk pembakaran itu menyala 19 detik dan menambah sekitar 204 mph — sedikit di atas 1 persen kecepatan roket — cukup untuk masuk orbit stabil di ketinggian sekitar 276 kilometer.
Setelah itu, 26 satelit Starlink V3 dilepas satu per satu dari ruang muatan dengan sistem katrol dan kabel. Ars Technica menyamakannya dengan mesin permen yang menyemburkan isinya. SpaceX menyatakan timnya berhasil menghubungi seluruh 26 satelit itu.
Engadget mencatat rencana misi berubah karena masalah mesin. Awalnya Starship dijadwalkan mengorbit Bumi enam kali dalam hampir 10 jam. Karena satu mesin mati, jadwalnya dipangkas jadi sekitar tiga jam sebelum masuk kembali ke atmosfer dan mendarat di Samudra Pasifik.
Bukan sekadar soal prestasi antariksa
Satelit Starlink V3 adalah alasan komersial di balik misi ini. Menurut SpaceX, setiap satelit V3 menambah kapasitas 1 Tbps ke jaringan Starlink — sekitar 10 kali lebih besar daripada satelit generasi lama yang diluncurkan dengan roket Falcon 9.
Satu Starship bisa membawa sampai 60 satelit V3 dalam sekali terbang. CNBC mencatat angka itu sekitar 20 kali kapasitas satu peluncuran Falcon 9.
Satelit V3 dibuat di fasilitas SpaceX di Redmond, Washington. Panel suryanya menghasilkan daya dua kali lebih besar dari generasi sebelumnya. SpaceX bahkan sudah mulai menghentikan peluncuran Starlink dengan Falcon 9 karena hanya Starship yang muat membawa V3.
Konteks angkanya
SpaceX saat ini mengoperasikan sekitar 11.000 satelit aktif di orbit. Sebagai pembanding, pesaing terdekatnya, Eutelsat OneWeb, punya sekitar 650 satelit.
Perusahaan itu melantai di bursa pada Juni 2026 lewat penawaran saham perdana terbesar dalam sejarah, dan kini bernilai sekitar US$2 triliun.
Tujuan berikutnya lebih jauh: menyiapkan Starship untuk uji terbang besar bersama NASA pada 2027 dan membawa astronaut Amerika kembali ke permukaan bulan. Direktur Operasi SpaceX, Gwynne Shotwell, juga menyebut rencana menempatkan “supercompute in space” — satelit komputasi AI — pada 2027.
Menurut CNN Indonesia, misi ini sekaligus menjadi kesempatan menguji pengisian bahan bakar roket saat sudah berada di orbit.
Bagaimana media lain membingkainya
- Ars Technica paling teknis: fokus pada “1 persen terakhir” kecepatan orbit, mesin Raptor yang bermasalah, angka 1 Tbps per satelit V3, dan sistem pelepasan satelit.
- CNBC membingkainya dari sisi bisnis: nilai perusahaan, jumlah satelit aktif, kapasitas 60 satelit per Starship, dan Starlink sebagai segmen yang paling menguntungkan.
- Engadget menyoroti perubahan rencana misi — dari enam orbit menjadi tiga jam — dan booster yang kali ini tidak lagi ditangkap menara.
- CNN Indonesia menekankan penjelasan dasar: target orbit sekitar 275 kilometer dan kecepatan sekitar 28.000 kilometer per jam, dengan keterangan analis Kathleen Curlee dari Georgetown University via kantor berita AFP.
- iNews.id mengutip Associated Press dan menyoroti momen “nyaris gagal”, lalu mengaitkannya dengan program bulan Artemis milik NASA.
Ada satu angka yang tidak sama antar media: waktu lepas landas. Ars Technica dan CNBC menyebut sekitar pukul 07.48–07.49 pagi waktu setempat (12.49 UTC atau 19.49 WIB), sementara CNN Indonesia menulis pukul 07.15 waktu setempat (19.15 WIB). PagiPagi tidak memilih salah satu karena perbedaan ini belum bisa diselesaikan dari sumber yang tersedia.
Angle PagiPagi
Banyak pemberitaan berhenti di kalimat “Starship berhasil mencapai orbit”. Padahal inti beritanya ada dua hal yang jarang dijelaskan sekaligus.
Pertama, perbedaan suborbital dan orbital bukan soal “lebih tinggi”, melainkan kecepatan. Tambahan 1 persen terakhir itulah yang menentukan apakah roket bisa bertahan mengelilingi Bumi atau jatuh kembali. Karena itu, mesin yang mati dan keputusan tetap melanjutkan misi adalah bagian penting dari cerita — bukan sekadar catatan teknis.
Kedua, ini bukan hanya soal rekor antariksa. Satelit V3 yang dilepas hari itu adalah produk yang menentukan kapasitas jaringan internet Starlink, dan hanya Starship yang bisa mengangkutnya dalam jumlah besar. Artinya, misi ini juga soal bisnis internet.
Yang belum terbukti: sistem Starship dan Super Heavy belum menunjukkan kemampuan dipakai ulang secara andal. Sejumlah mesin bermasalah dalam penerbangan ini, dan itu tetap menjadi pertanyaan untuk penerbangan berikutnya.
Kenapa ini penting
Jaringan internet satelit memengaruhi harga dan kualitas koneksi di banyak negara, termasuk Indonesia yang sudah memakai layanan Starlink. Semakin murah biaya mengangkut satelit ke orbit, semakin besar pula kemungkinan kapasitas internet bertambah dan harga bergeser.
Sumber dan validasi
Artikel ini disusun dari laman resmi SpaceX sebagai sumber primer, ditambah lima pemberitaan media berbeda: Ars Technica, CNBC, Engadget, CNN Indonesia, dan iNews.id. Semuanya dibuka langsung, bukan hanya dari judul.
Dua angka penting dicek silang: kecepatan orbit sekitar 28.000 kilometer per jam disebut SpaceX (setara 17.500 mil per jam) dan juga muncul di CNN Indonesia. Angka ketinggian orbit sekitar 276 kilometer juga disebut Ars Technica dan CNN Indonesia.
Yang masih perlu dicatat: satu angka, yaitu jam lepas landas, berbeda antar media dan ditulis apa adanya. Klaim soal kontak dengan seluruh 26 satelit berasal dari SpaceX dan belum dikonfirmasi pihak independen.
Kesimpulan
Starship akhirnya menutup 1 persen terakhir perjalanan menuju orbit — dengan mesin yang bermasalah dan rencana yang berubah di tengah jalan. Tonggaknya nyata, tapi ujian berikutnya lebih berat: membuktikan roket ini bisa dipakai ulang dan diandalkan.
Baca juga
- Prabowo Targetkan 70 Ribu Polisi Hutan: Baru 4.500 Sekarang, 21 Ribu Jatah Tahun Depan
- Densus 88 Tangkap Tersangka Terorisme di 6 Provinsi: Kenapa Angkanya 11 atau 12?
- Menkeu Baru, Pasar Merah: Apa yang Sebenarnya Dibaca Investor
- Eks Ketua NasDem Papua Barat Daya Pindah ke PSI: Yang Dibawa Bukan Loyalitas, Tapi Basis
- Delapan Orang Termasuk Eks Wamen Silmy Karim Segera Diadili soal Izin Tinggal WNA
Jejak sumber berita
- [1] SpaceX (laman resmi) — 'Starship — orbital flight' (diperbarui menjelang Flight 14, Sept 2026) — sumber primer: alasan 13 penerbangan pertama sengaja suborbital, penjelasan orbit sebagai persoalan kecepatan (~17.500 mph di orbit rendah Bumi), dan mekanisme pembakaran sirkularisasi dengan satu mesin Raptor. https://www.spacex.com/updates/
- [2] Ars Technica — 'SpaceX's Starship goes orbital, deploying first next-gen Starlinks' (28 Sep 2026) — framing paling teknis: literasi '1 persen terakhir' kecepatan orbital, kegagalan mesin Raptor, kapasitas 1 Tbps per satelit V3, sistem pelepasan satelit, kutipan Caleb Henry (Quilty Space). https://arstechnica.com/space/2026/09/starships-first-orbital-launch-gives-lift-to-spacexs-next-gen-starlinks/
- [3] CNBC — 'SpaceX launches its massive Starship rocket into orbit for the first time' (28 Sep 2026) — framing bisnis: valuasi SpaceX ~US$2 triliun, ~11.000 satelit aktif vs ~650 Eutelsat OneWeb, kapasitas hingga 60 satelit V3 per Starship, rencana satelit komputasi AI 2027 (Gwynne Shotwell). https://www.cnbc.com/2026/09/28/spacex-prepares-to-send-starship-rocket-to-orbit-for-first-time.html
- [4] Engadget — 'SpaceX's latest Starship mission reached low-Earth orbit' (28 Sep 2026) — framing perubahan rencana misi: dari enam orbit/hampir 10 jam menjadi sekitar tiga jam, booster mendarat di Teluk Meksiko tanpa ditangkap menara. https://www.engadget.com/2270992/spacexs-latest-starship-mission-reached-low-earth-orbit/
- [5] CNN Indonesia — 'Roket Starship SpaceX Meluncur ke Orbit Malam Ini' (28 Sep 2026) — framing penjelasan dasar untuk pembaca Indonesia: target orbit ~275 km, kecepatan ~28.000 km/jam, kutipan analis Kathleen Curlee (Georgetown University) via AFP. https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20260928195452-199-1409213/roket-starship-spacex-meluncur-ke-orbit-malam-ini
- [6] iNews.id — 'Roket Starship SpaceX Sukses Diluncurkan ke Orbit, Bawa 26 Satelit Starlink' (28 Sep 2026) — framing mengutip Associated Press (AP): momen nyaris gagal karena mesin mati dini, dikaitkan dengan kesiapan program bulan Artemis NASA. https://www.inews.id/news/internasional/roket-starship-spacex-sukses-diluncurkan-ke-orbit-bawa-26-satelit-starlink
- [7] detikInet — 'Starship 41 Siap Meluncur, SpaceX Bidik Orbit Penuh Pertama' (28 Sep 2026) — dipakai sebagai penanda waktu persiapan peluncuran (dipakai untuk konteks waktu, bukan sebagai dasar klaim teknis). https://inet.detik.com/fotoinet/d-8682218/starship-41-siap-meluncur-spacex-bidik-orbit-penuh-pertama
Artikel ini disusun dengan bantuan AI untuk pemetaan isu, riset awal, dan penyusunan draft. Setiap angka dan kutipan dicocokkan dengan laman resmi SpaceX dan laporan langsung dari lima media berbeda yang dibuka sendiri; perbedaan antar sumber ditulis terbuka, bukan disamarkan. Keputusan terbit tetap di tangan editor manusia. Foto pada artikel ini adalah ILUSTRASI buatan AI, bukan dokumentasi peluncuran, bukan foto SpaceX.


