Pemilihan umum Israel pada Selasa (27/10/2026) sudah selesai, tapi pemenangnya belum ada. Yang ada: dua blok yang sama-sama mentok di bawah angka 61.
Itu angka ajaib dalam politik Israel. Knesset punya 120 kursi, dan untuk membentuk pemerintahan sebuah koalisi butuh minimal 61 kursi — atau separuh lebih satu.
Hingga Rabu malam, Komite Pemilihan Umum Pusat Israel baru menghitung sekitar 85 persen suara. Hasilnya: blok Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan blok oposisi sama-sama tidak mencapai mayoritas.
Apa yang terjadi
Pemilu digelar Selasa untuk memilih 120 anggota Knesset. Tingkat partisipasi mencapai 77,7 persen — tertinggi sejak 1999, menurut laporan SINDOnews yang mengutip data penyelenggara.
Pada hitungan 84,5–85,6 persen, kubu Netanyahu berada di kisaran 53–57 kursi. Blok oposisi pimpinan mantan panglima militer Gadi Eisenkot (Partai Yashar) di kisaran 48–49 kursi.
Partai-partai yang dipimpin warga Arab Israel — Joint List dan Ra’am — diproyeksikan meraih 17 hingga 19 kursi. Jika bertahan, itu rekor tertinggi sepanjang sejarah pemilu Israel.
“Belum pernah terjadi sebelumnya dan bersejarah dalam masyarakat Arab kita,” kata pemimpin Joint List Yousef Jabareen, dikutip CNN Indonesia dari NDTV.
Kenapa angkanya berbeda-beda di tiap media
Berbagai media menulis angka kursi yang tidak sama, dan semuanya punya alasan.
CNN Indonesia menulis “57 kursi berbanding 49” pada satu artikel, tetapi “54 berbanding 49” di artikel lain. iNews dan SINDOnews menulis “53, 48, partai Arab 19”. DW menyebut “54, 49, Arab 17”. ANTARA menulis proyeksi “16 kursi” untuk partai Arab.
Sumber perbedaannya dua hal: persentase suara yang sudah dihitung berbeda (50,1 persen, 84,5 persen, 85,6 persen, “hampir 80 persen”), dan lembaga yang membuat proyeksi berbeda — ada yang mengutip Komite Pemilihan Umum, ada yang mengutip proyeksi portal Ynet.
Karena hitungan belum selesai, angka-angka itu belum final. Penghitungan akhir diperkirakan rampung Jumat, dan hasil resmi diumumkan 4 November.
Bagaimana sistemnya bekerja
Israel memakai sistem proporsional dengan ambang batas 3,25 persen. Artinya, partai yang gagal menembus ambang itu suaranya hangus dan kursinya dibagi ke partai lain. Pada hitungan Rabu, tiga partai masih di bawah ambang: Reservists (2,7 persen), People of Israel (1,6 persen), dan Charedi Public (0,2 persen).
Setelah hasil resmi keluar, Presiden Isaac Herzog berkonsultasi dengan semua pemimpin partai soal siapa yang mereka dukung jadi perdana menteri. Kandidat yang dinilai paling berpeluang diberi mandat 28 hari untuk membentuk koalisi.
Kenapa partai Arab jadi kunci
Warga Arab Israel sekitar 20–21 persen dari populasi, dan sekitar 1,18 juta di antaranya punya hak pilih menurut Madar Center for Israeli Studies yang dikutip ANTARA. Partisipasi mereka secara tradisional lebih rendah dari warga Yahudi, tapi tahun ini naik — dan itu mengubah aritmetika.
Dengan 17–19 kursi, partai Arab cukup untuk mendorong salah satu blok melewati 61. Tanpa mereka, kedua blok mentok.
Masalahnya: secara historis partai-partai Zionis enggan berkoalisi dengan partai Arab. Satu pengecualian terjadi pada 2021, ketika Ra’am di bawah Mansour Abbas masuk pemerintahan pimpinan Naftali Bennett — dan koalisi itu hanya bertahan setahun. Kini Avigdor Lieberman (Yisrael Beiteinu) dan Naftali Bennett sudah menyatakan tidak mau bergabung dalam koalisi yang menyertakan partai Arab, menurut laporan SINDOnews.
Bagaimana Media Lain Membingkainya
- CNN Indonesia membingkai lewat “kenapa” — kenapa partai Arab jadi penentu, bagaimana sistem 61 kursi bekerja. Paling banyak menjelaskan mekanisme.
- ANTARA menekankan konteks demografi dan sejarah: siapa warga Arab Israel, bedanya dengan warga Palestina di Tepi Barat dan Gaza, dan preseden koalisi 2021.
- SINDOnews melangkah ke analisis: mungkinkah tabu itu didobrak, dan menyoroti bahwa Eisenkot pun tidak jauh berbeda dari Netanyahu soal Tepi Barat, Gaza, dan Iran.
- DW dan NHK menekankan kebuntuan: tidak ada pemenang jelas.
- Yang tidak disebut hampir semua media Indonesia: siapa yang berhak dapat mandat lebih dulu kalau tak ada blok yang mencapai 61.
Angle PagiPagi
Berita ini bukan soal siapa menang. Berita ini soal aritmetika yang tidak mau menutup.
Semua media sibuk melaporkan angka kursi, padahal angka itu masih bergerak dan berbeda antar lembaga. Yang stabil justru satu hal: tidak ada blok yang mencapai 61 tanpa bantuan partai Arab.
Artinya, kunci pemilu Israel 2026 bukan terletak pada Netanyahu atau Eisenkot, melainkan pada partai yang selama puluhan tahun dijauhkan dari kursi pemerintahan.
Dan di sinilah paradoksnya: satu-satunya jalan keluar dari kebuntuan adalah melanggar tabu yang justru dijaga oleh sebagian mitra potensial kedua blok.
Kenapa ini penting
Bagi Indonesia, hasilnya ikut menentukan arah kebijakan luar negeri Israel terhadap Gaza, Tepi Barat, dan Iran — isu yang berulang kali menyeret posisi Indonesia di forum internasional.
Ada juga pelajaran sistem: aturan ambang batas dan syarat 61 kursi membuat suara minoritas yang terorganisir bisa bernilai jauh lebih besar daripada persentasenya.
Kesimpulan
Hitungan suara belum final. Hasil resmi dijadwalkan 4 November, dan proses pembentukan koalisi bisa berlangsung berminggu-minggu.
Yang sudah bisa dipastikan: Netanyahu tidak otomatis kembali jadi PM hanya karena bloknya unggul tipis, dan Eisenkot tidak otomatis jadi PM hanya karena oposisi bersatu. Keduanya butuh angka 61 — dan angka itu hanya bisa datang dari partai Arab yang keduanya belum tentu bersedia mengajak.
Jejak sumber berita
- [1] CNN Indonesia — 'Kenapa Partai Warga Arab Bisa Jadi Penentu Kursi PM Israel?' (28 Okt 2026) — framing: penjelasan mekanisme 61 kursi + demografi, proyeksi 50,1 persen suara (51-51) https://www.cnnindonesia.com/internasional/20261028175101-120-1420670/kenapa-partai-warga-arab-bisa-jadi-penentu-kursi-pm-israel
- [2] CNN Indonesia — 'Hasil 84,5 % Suara Terhitung: Netanyahu 57 Kursi, Eisenkot 49 Kursi' (28 Okt 2026) — framing: angka terkini per jam, ambang batas 3,25 persen, tiga partai gagal threshold https://www.cnnindonesia.com/internasional/20261028191444-120-1420730/hasil-845-suara-terhitung-netanyahu-57-kursi-eisenkot-49-kursi
- [3] CNN Indonesia — 'Netanyahu Hanya Butuh 4 Kursi Lagi untuk Amankan Posisi PM Israel' (28 Okt 2026) — framing: hitungan dari kacamata Netanyahu (57 vs 49, partai Arab turun ke 17) https://www.cnnindonesia.com/internasional/20261028203631-120-1420744/netanyahu-hanya-butuh-4-kursi-lagi-untuk-amankan-posisi-pm-israel
- [4] ANTARA — 'Partai-partai Arab bisa jadi penentu pada Pemilu Israel 27 Oktober' (pra-pemilu) — framing: konteks demografi & sejarah; 1,18 juta pemilih Arab (Madar Center), preseden koalisi Ra'am 2021, beda warga Arab Israel vs Palestina Tepi Barat/Gaza https://www.antaranews.com/berita/5811515/partai-partai-arab-bisa-jadi-penentu-pada-pemilu-israel-27-oktober
- [5] iNews — 'Update Pemilu Israel: Kubu Netanyahu Raih 53 Kursi, Eisenkot 48, Partai Arab 19 Kursi' (28 Okt 2026) — framing: angka + drama 'penentu tamatnya Netanyahu'; mengutip proyeksi Ynet (Joint List 12, Ra'am 7) https://www.inews.id/news/internasional/update-pemilu-israel-kubu-netanyahu-raih-53-kursi-eisenkot-48-partai-arab-19-kursi
- [6] SINDOnews — 'Mungkinkah Zionis Mendobrak Tabu untuk Bermitra dengan Partai-partai Arab?' (29 Okt 2026) — framing: analisis; partisipasi 77,7 persen tertinggi sejak 1999, hasil resmi 4 November, mandat 28 hari + perpanjangan 14 hari, Lieberman & Bennett menolak koalisi dengan partai Arab https://international.sindonews.com/read/1765861/43/mungkinkah-zionis-mendobrak-tabu-untuk-bermitra-dengan-partai-partai-arab
- [7] SINDOnews — 'Baik Netanyahu dan Eisenkot Ingin Mewujudkan Israel Raya' (28 Okt 2026) — framing: analisis kesamaan pandangan kedua kubu soal Tepi Barat, Gaza, Iran (mengutip Antony Loewenstein/Al Jazeera) https://international.sindonews.com/read/1765855/43/baik-netanyahu-dan-eisenkot-ingin-mewujudkan-israel-raya-1793193045
Artikel ini disusun dengan bantuan AI untuk pemetaan isu, riset awal, dan penyusunan draft; verifikasi fakta dan keputusan editorial berada di tangan editor manusia. Foto featured adalah ILUSTRASI AI, bukan dokumentasi peristiwa.


