Jakarta — Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menimbulkan dampak kesehatan yang kian berat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 277.075 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di 63 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terdampak. Dari jumlah itu, 62.400 kasus menimpa balita usia 0–5 tahun, atau sekitar 22,5 persen dari total.
Angka ini membuat bayi dan balita masuk kelompok paling rentan. Sistem pernapasan mereka belum berkembang sempurna, sementara partikel halus dalam asap karhutla bisa masuk jauh ke saluran napas.
Apa yang terjadi
Data dihimpun Kemenkes melalui laporan Pusat Krisis Kesehatan (PHEOC) per 11 Oktober 2026 pukul 16.00 WIB. Sehari kemudian, angka kumulatif yang dirilis ke publik menembus 277.075 kasus di tujuh provinsi terdampak karhutla.
Kelompok usia 0–5 tahun menyumbang 62.400 kasus. Ini menjadikan balita kelompok dengan proporsi terbesar dibanding kelompok rentan lain, seperti lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit paru kronis.
Kemenkes menyebut paparan asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik beracun. Paparannya dapat memicu ISPA, iritasi mata dan kulit, memperburuk asma dan PPOK, serta meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.
Konteks
Karhutla di sejumlah wilayah Indonesia kembali meluas pada Oktober 2026. Tujuh provinsi tercatat terdampak, dengan 63 kabupaten/kota melaporkan kasus ISPA.
Angka 277.075 itu bukan lonjakan mendadak. Sebelumnya, periode Juli–Agustus 2026 sudah mencatat 50.891 kasus ISPA dengan 12.600 di antaranya balita. Artinya, tren kenaikan berlangsung beberapa bulan seiring meluasnya titik api.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan kasus untuk mendeteksi peningkatan penyakit sekaligus memperkuat respons di wilayah terdampak.
Data dan fakta pendukung
- 277.075 kasus ISPA kumulatif di tujuh provinsi terdampak karhutla (per 11–12 Oktober 2026)
- 62.400 kasus di antaranya menimpa balita usia 0–5 tahun, atau 22,5 persen
- 63 kabupaten/kota melaporkan kasus
- 2.106 tenaga medis dan tenaga kesehatan dimobilisasi
- 1.691 puskesmas dan 36 rumah sakit rujukan disiagakan
- 2,8 juta lebih masker didistribusikan melalui pemerintah pusat dan daerah
- Tersedia Pos Kesehatan, ruang oksigen, dan program “Oase Udara” di sejumlah wilayah Kalimantan
Kenapa ini penting
Bayi dan balita tidak bisa melindungi diri sendiri dari asap. Ketika ISPA menyerang pada usia ini, risikonya lebih besar dibanding orang dewasa: saluran napas mereka lebih sempit dan sistem imun belum matang.
Kemenkes secara khusus mengingatkan orang tua agar tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan pada anak selama paparan asap berlangsung.
Anak yang mengalami sesak napas, bernapas lebih cepat, atau kesulitan menyusu dan minum harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan. Kemenkes juga mengingatkan penggunaan nebulizer harus berdasarkan indikasi dan petunjuk tenaga medis, bukan dilakukan sendiri tanpa arahan.
Kemenkes menyebut perlindungan diutamakan bagi kelompok anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma/PPOK, serta pekerja luar ruangan.
Kesimpulan
277.075 kasus ISPA dan 62.400 di antaranya balita adalah angka yang seharusnya membuat perlindungan anak jadi prioritas, bukan sekadar imbauan. Selama titik api belum padam, risiko pada kelompok paling rentan ini masih berjalan.
Jejak sumber berita
- Kompas.com — “Kemenkes Catat 277.075 Kasus ISPA Akibat Karhutla, 62.400 Menimpa Balita” (15 Okt 2026)
- detikHealth — “Kemenkes Catat 277 Ribu Kasus ISPA Imbas Karhutla, Termasuk 62 Ribu Balita” (14 Okt 2026)
- Suara.com — “ISPA di Wilayah Karhutla Tembus 277 Ribu Kasus” (14 Okt 2026)
- NTV News — “Kemenkes Catat 277 Ribu Kasus ISPA di 7 Provinsi Terdampak Karhutla” (14 Okt 2026)
- Viva.co.id — “Dampak Mengerikan Asap Karhutla, Kemenkes Catat 62.400 Kasus ISPA pada Balita” (14 Okt 2026)
- IDN Times — “Asap Karhutla Mengganas, 62.400 Balita Terjangkit ISPA” (14 Okt 2026)
Data primer: laporan PHEOC Kementerian Kesehatan RI per 11 Oktober 2026 dan pernyataan resmi Kemenkes, dikutip 14 Oktober 2026.
Baca juga
- HBO Max, Paramount+, dan Discovery+ Akan Jadi Satu Layanan: Tagihan Saya Berubah Tidak?
- Tarif AS Bikin Panel Surya RI Tak Bisa Ekspor, Pemerintah Bidik Pasar Dalam Negeri
- Pasal ‘Gibran Banget’ di PKPU: MK Sudah Menutup, Tapi Pertanyaannya Belum Selesai
- Prabowo Mau Ganti Nama BNN Jadi BNPN: Masih Wacana, Aturan Resminya Belum Ada
- Apple Gandeng LG Bikin Perangkat Rumah Pintar, Tapi Dijual Pakai Merek LG
Jejak sumber berita
- Kompas.com — “Kemenkes Catat 277.075 Kasus ISPA Akibat Karhutla, 62.400 Menimpa Balita” (15 Okt 2026). https://www.kompas.com/tren/read/2026/10/15/070000865/kemenkes-catat-277-075-kasus-ispa-akibat-karhutla-62-400-menimpa-balita
- detikHealth — “Kemenkes Catat 277 Ribu Kasus ISPA Imbas Karhutla, Termasuk 62 Ribu Balita” (14 Okt 2026). https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-7785421/kemenkes-catat-277-ribu-kasus-ispa-imbas-karhutla-termasuk-62-ribu-balita
- Suara.com — “ISPA di Wilayah Karhutla Tembus 277 Ribu Kasus” (14 Okt 2026). https://www.suara.com/health/2026/10/14/170000/ispa-di-wilayah-karhutla-tembus-277-ribu-kasus
- NTV News — “Kemenkes Catat 277 Ribu Kasus ISPA di 7 Provinsi Terdampak Karhutla” (14 Okt 2026). https://www.ntvnews.id
- Viva.co.id — “Dampak Mengerikan Asap Karhutla, Kemenkes Catat 62.400 Kasus ISPA pada Balita” (14 Okt 2026). https://www.viva.co.id
- IDN Times — “Asap Karhutla Mengganas, 62.400 Balita Terjangkit ISPA” (14 Okt 2026). https://www.idntimes.com
Artikel ini disusun oleh PagiPagi.id dengan bantuan AI dari sumber media yang dicantumkan. Seluruh angka dan kutipan telah diverifikasi terhadap laporan Kemenkes RI. Foto featured adalah ilustrasi tematik, bukan dokumentasi peristiwa.


