Amazon berjanji menyalurkan lebih dari US$1 miliar (sekitar Rp18 triliun, dengan kurs sekitar Rp18.000 per dolar AS) selama lima tahun untuk warga di sekitar pusat data (data center) mereka. Programnya bernama Built Together. Tapi janji ini datang bersama tuduhan yang tak biasa: perusahaan menuding gelombang penolakan warga sebagai bagian dari informasi palsu yang disebar pihak asing.
Pengumuman ini disampaikan lewat tulisan terbuka Matt Garman, CEO Amazon Web Services (AWS), pada 2 Oktober 2026. Panjangnya hampir 3.000 kata — tidak biasa untuk sekadar merilis program bantuan.
Isi Janjinya
Built Together berdiri di atas tiga pilar yang menurut Amazon dipilih sendiri oleh warga: pendidikan dan keterampilan kerja, keringanan biaya energi dan air, serta dana fleksibel untuk kebutuhan lokal.
- Pendidikan gratis. Amazon menargetkan lebih dari 300.000 siswa bisa mengakses community college gratis, dengan perusahaan menutup biaya yang tidak ditanggung bantuan keuangan.
- Keringanan energi. Amazon berencana memperbaiki efisiensi lebih dari 300 sekolah dan gedung komunitas serta 30.000 rumah, dengan target memangkas tagihan energi 20–40 persen (sekitar US$700 per rumah tangga per tahun).
- Dana fleksibel. Jutaan dolar per tahun per komunitas, disalurkan lewat organisasi lokal, untuk kebutuhan seperti jalan, taman, peralatan pemadam kebakaran, hingga ketahanan pangan.
Amazon juga menyebut dirinya berhenti memakai perjanjian kerahasiaan (NDA) saat membangun pusat data baru. Langkah ini disebut akan membuat proyek lebih transparan.
Membantah “Mitos”
Garman secara khusus membantah sejumlah kekhawatiran warga. Soal air, ia menyebut klaim bahwa satu pusat data memakai 5 juta galon per hari sebagai salah. Menurutnya, rata-rata pusat data di Amerika Serikat memakai sekitar 170.000 galon per hari, sementara fasilitas Amazon rata-rata kurang dari 13.000 galon — setara kebutuhan sekitar 42 rumah tangga.
Soal listrik, ia berargumen kenaikan tarif lebih disebabkan jaringan listrik yang menua, bukan kehadiran pusat data. Ia menyebut narasi bahwa pusat data menaikkan tagihan listrik sebagai “kambing hitam yang nyaman”.
Soal polusi, Garman membantah klaim bahwa genset diesel cadangan menghasilkan polusi besar, dengan alasan genset hanya dipakai saat pemadaman.
Pihak yang Menolak: Angkanya Tidak Sebesar Itu
Kelompok lingkungan Stand.Earth menilai janji ini tidak sebanding dengan skala belanja Amazon. Ada satu angka yang paling telak: dalam rilis yang sama, Garman menyebut Amazon juga menyumbang lebih dari US$1 miliar ke komunitas pusat data selama tiga tahun terakhir. Artinya, komitmen “baru” lima tahun ini sama besarnya dengan belanja tiga tahun yang sudah berjalan.
“Dibandingkan US$220 miliar yang diinvestasikan perusahaan untuk pusat data pada 2026 saja, komitmen US$1 miliar selama lima tahun itu setetes di laut,” kata Stand.Earth, seperti dikutip Ars Technica.
Stand.Earth juga menyorot pembangkit listrik yang sedang dibangun Amazon di Pecos, Texas. Menurut mereka, itu akan menjadi sumber emisi iklim tunggal terbesar di Amerika Serikat, dengan 33 juta ton polusi udara setiap tahun. Mereka menilai janji air Amazon tidak menjawab jejak air dari infrastruktur energi maupun potensi pencemaran dari teknologi pendingin baru.
Bagaimana Media Lain Membingkainya
- Ars Technica (AS) memilih sudut konflik: fokus pada tuduhan “informasi palsu pihak asing” dan kritik Stand.Earth. Ia menyebut angka US$1 miliar sebagai ganjaran yang kecil dibanding belanja Amazon.
- CNBC Indonesia membingkainya sebagai kisah warga vs korporasi. Ia menambahkan data yang tidak ada di sumber AS: survei yang menunjukkan 62 persen warga Amerika mendukung penundaan pembangunan pusat data AI, dan 40 persen menyebutnya prioritas utama.
- Telset.id (Indonesia) paling rinci pada angka teknis program: power usage efficiency (PUE) global Amazon 1,14 untuk 2025 (rata-rata industri 1,25), dan catatan penting bahwa Amazon tidak memisahkan pemakaian air antara pusat data AWS biasa dan pusat data AI baru yang boros daya.
- Unite.AI fokus ke rincian operasional: proyek pengembalian air yang dikontrak lebih dari 65 proyek (8 miliar galon per tahun), dan angka pajak seperti US$3 miliar di St. Joseph County, Indiana.
Yang menarik: media AS cenderung menyorot sisi konflik dan skeptis terhadap angka Amazon, sementara media Indonesia lebih banyak merangkum janji programnya. Hampir tidak ada yang menyorot satu hal — porsi terbesar keterlibatan warga justru soal tagihan listrik, bukan air, padahal Amazon paling banyak membantah soal air.
Angle PagiPagi
Janji baik tidak otomatis menjawab keluhan aslinya. Amazon membantah soal air dan genset, tetapi keluhan warga yang paling luas justru soal tagihan listrik — dan itu yang paling sedikit dijawab Amazon. Ada juga celah logika yang perlu dicatat: uang bantuan komunitas tidak sama dengan aturan yang mengikat. Selama tidak ada kewajiban hukum, semua komitmen ini bergantung pada niat baik perusahaan.
Kenapa Ini Penting
Ini bukan cerita khas Amerika. Indonesia sedang menjadi tujuan investasi pusat data besar, dan pola yang sama bisa terjadi di sini: proyek datang cepat, keluhan warga soal listrik dan air muncul belakangan. Cara Amazon merespons penolakan ini bisa jadi gambaran bagaimana perusahaan teknologi lain akan bereaksi ketika warga mulai bertanya.
Kesimpulan
Amazon menjanjikan lebih dari US$1 miliar untuk warga sekitar pusat data sambil membantah sejumlah keluhan dan menuding ada informasi palsu dari pihak asing. Kritik utama bukan pada niatnya, melainkan pada skalanya yang dinilai kecil dan pada keluhan listrik yang belum tuntas dijawab. Program ini akan jadi ujian apakah pendekatan keterbukaan bisa meredam gelombang penolakan.
Baca juga
- Amazon Janji US$1 Miliar untuk Warga Sekitar Data Center, Kritikus: Setetes di Lautan
- Prabowo Sebut 5 IUP Punya Cadangan Rp5.400 Triliun, Tapi yang Diminta Bukan Tepuk Tangan
- Apple Gandeng LG Bikin Perangkat Rumah Pintar, Tapi Dijual Pakai Merek LG
- Eks Ketua NasDem Papua Barat Daya Pindah ke PSI: Yang Dibawa Bukan Loyalitas, Tapi Basis
- Wajib Halal 18 Oktober 2026: yang Berubah Bukan Cuma Label, tapi Pintu Izin Edar
Jejak sumber berita
- [1] Amazon / About Amazon (sumber primer) — 'Building data centers the right way, together with communities' oleh Matt Garman, CEO AWS (2 Okt 2026) — tulisan resmi ~3.000 kata: janji >US$1 miliar 5 tahun, bantahan mitos air/listrik/polusi, rincian program Built Together https://www.aboutamazon.com/news/company-news/amazon-data-centers-built-together
- [2] Ars Technica — 'Amazon's $1B plan to combat data center backlash draws more backlash' (4 Okt 2026) — framing konflik: tuduhan 'informasi palsu pihak asing', kritik Stand.Earth, perbandingan US$1 M vs belanja US$220 M 2026 https://arstechnica.com/tech-policy/2026/10/amazons-1b-plan-to-combat-data-center-backlash-draws-more-backlash/
- [3] CNBC Indonesia — 'Warga Ramai-Ramai Tolak Data Center Malah Disebut Antek Asing' (5 Okt 2026) — framing warga vs korporasi: survei 62% warga AS dukung moratorium, 40% sebut prioritas utama https://www.cnbcindonesia.com/tech/20261005121058-37-773338/warga-ramai-ramai-tolak-data-center-malah-disebut-antek-asing
- [4] Telset.id — 'Amazon Tolak NDA Data Center, Janji USD1 Miliar untuk Warga' (5 Okt 2026) — framing teknis: PUE global Amazon 1,14 vs industri 1,25, catatan Amazon tidak memisahkan pemakaian air pusat data biasa vs pusat data AI https://telset.id/news/ai/amazon-tolak-nda-data-center-janji-usd1-miliar-untuk-warga
- [5] Unite.AI — 'Amazon Announces Built Together Program for Data Center Communities' (2 Okt 2026) — framing operasional: rincian tiga pilar, 65+ proyek air (8 miliar galon/tahun), angka pajak St. Joseph County US$3 miliar https://www.unite.ai/amazon-announces-built-together-program-for-data-center-communities/
AI digunakan untuk memetakan isu, merangkum dokumen sumber, dan menyusun draf. Seluruh klaim faktual diverifikasi ke tulisan resmi Amazon dan pemberitaan lintas media oleh editor sebelum publikasi. Foto pada artikel ini adalah ILUSTRASI AI, bukan dokumentasi peristiwa nyata. Konversi ke rupiah dalam artikel adalah perkiraan dengan kurs sekitar Rp18.000 per dolar AS, bukan harga atau nilai resmi.


