⚡ Lagi Naik
Tech

AI Makin Lapar Listrik: Proyek Data Center Diundur, Google Malah Kirim Server ke Orbit

Oracle mengirim surat force majeure, satu data center di New Jersey didenda 1,1 juta dolar karena genset tanpa izin, dan Google menyiapkan uji coba data center AI di luar angkasa 1 Oktober. Tiga peristiwa, satu masalah: listrik dan izin.

Aan Kurniawan Saputra• September 25, 2026• 5 menit baca
Ilustrasi satelit kecil dengan panel surya mengorbit di atas Bumi
ANGLE PAGIPAGITiga berita terpisah ini sebenarnya satu cerita: hambatan AI sudah bergeser dari chip ke listrik dan izin. Yang menarik, solusi yang muncul bukan mengurangi konsumsi — Oracle menunda pembayaran, DataOne berjanji ganti generator, Google pindah ke orbit. Dan pihak yang paling ambisius (Google) justru paling jujur soal batasnya: proyek data center orbitnya belum akan berguna selama beberapa tahun. Media lain membaca ketiganya sebagai berita terpisah.
VALIDASITerverifikasi: (1) Oracle mengirim pemberitahuan force majeure untuk Proyek Jupiter — dikonfirmasi TechCrunch dan CNBC, keduanya mengutip laporan awal Bloomberg; pernyataan Oracle ('Project Jupiter remains on our planned schedule') dan Blue Owl Capital dikutip langsung di kedua media; (2) detail teknis Suncatcher (satelit MVP, 4 TPU, panel surya sekitar 1 kilowatt, pendingin hanya 15 menit, peluncuran 1 Oktober via Falcon 9, biaya peluncuran sekitar 74 juta dolar AS) — konsisten antara Engadget dan Ars Technica; pernyataan James Manyika (Google) soal ekspektasi dikutip langsung; (3) denda New Jersey 1,1 juta dolar AS dan konteks warga dari laporan panjang Ars Technica; (4) pernyataan CEO Nvidia Jensen Huang dari kolom The Verge. BELUM TERKONFIRMASI / BATAS KLAIM: (a) artikel asli Bloomberg dan The New York Times — dua pelapor pertama untuk kasus Oracle dan Suncatcher — TIDAK dapat dibaca langsung dari server kami (paywall), sehingga detailnya diperoleh lewat kutipan di TechCrunch, CNBC, Engadget, dan Ars Technica (verifikasi tingkat kutipan, bukan dokumen asli); (b) jumlah genset berbeda antar sumber — judul Ars Technica menyebut 62 unit sementara isi laporannya menyebut permohonan izin sekitar 30 unit, perbedaan ini belum dijelaskan pihak terkait dan ditulis terbuka di artikel; (c) beberapa media berbahasa Indonesia melaporkan saham Oracle turun 6 persen, sementara CNBC menyebut lebih dari 3 persen — perbedaan angka belum terselesaikan; (d) halaman resmi Departemen Perlindungan Lingkungan New Jersey (nj.gov) tidak memuat rilis pers yang dapat dibaca langsung. SUMBER PRIMER: pernyataan resmi perusahaan (Oracle, Blue Owl, Google) dan pejabat (Komisioner DEP New Jersey Ed Potosnak) diperoleh sebagai kutipan langsung yang dimuat lebih dari satu media, bukan dari siaran pers yang bisa kami buka sendiri.
STATUSSumber tersedia

JAKARTA — Dalam waktu kurang dari tiga hari, tiga kejadian berbeda menunjukkan masalah yang sama: kesulitan terbesar industri kecerdasan buatan (AI) hari ini bukan lagi membuat chip, tapi mencari listrik, lahan, dan izin.

Oracle mengirim surat “keadaan kahar” (force majeure) untuk proyek data center raksasanya. Sebuah data center di New Jersey didenda karena menjalankan puluhan generator gas tanpa izin. Dan Google menyiapkan uji coba data center AI di luar angkasa pada 1 Oktober.

Oracle: surat untuk menunda pembayaran

Oracle mengirim pemberitahuan force majeure kepada pengembang Proyek Jupiter, kampus data center Stargate di New Mexico, Amerika Serikat. Hal ini lebih dulu dilaporkan Bloomberg.

Dalam kontrak energi dan komoditas, klausul force majeure membebaskan pihak tertentu dari kewajiban ketika ada hal di luar kendalinya. Menurut laporan itu, Oracle tidak berniat keluar sebagai penyewa utama. Surat itu dimaksudkan agar Oracle bisa menunda pembayaran jika fasilitas tidak mulai beroperasi sesuai target 2028.

Oracle membantah ada penundaan. “Project Jupiter tetap sesuai jadwal kami,” kata perusahaan itu dalam pernyataan kepada CNBC.

Saham Oracle turun lebih dari 3 persen pada Kamis. Saham Blue Owl Capital, pengembang proyek itu, juga turun.

Mengapa proyek ini tersendat

Kampus data center itu dirancang menyerap daya 2,45 gigawatt — sekitar daya listrik untuk ratusan ribu rumah. Rencananya, listriknya berasal dari sel bahan bakar bertenaga gas dari Bloom Energy.

Masalahnya ada di pasokan gas. Pipa dari Energy Transfer yang seharusnya memasok gas ke lokasi itu tertunda hampir enam bulan, menjadi 1 Februari 2027, setelah regulator berulang kali menolak izinnya. Izin kualitas udara untuk sistem sel bahan bakar juga masih menggantung, dengan tenggat keputusan 23 November.

Proyek ini juga mendapat penolakan warga dan kelompok lingkungan, dan menjadi isu politik menjelang pemilu sela Amerika Serikat.

Satu angka lain: menurut Financial Times, Oracle menanggung utang 18 miliar dolar AS terkait data center ini, dan surat utangnya sudah diperdagangkan pada level yang menandakan investor khawatir.

New Jersey: 62 genset, didenda setelah foto satelit

Kasus kedua terjadi di Vineland, New Jersey. Kompleks data center bernama DataOne didenda 1,1 juta dolar AS — disebut sebagai denda terbesar yang pernah dijatuhkan pada data center di negara bagian itu.

Pemicunya tidak biasa. Seorang petani secara tidak sengaja memotret lokasi itu dari satelit saat sedang memotret lapangan golf di sebelahnya. Dari foto itu terlihat unit-unit yang ternyata generator gas portabel berukuran sebesar truk trailer.

Menurut Ars Technica, judul laporan menyebut 62 generator, sementara DataOne hanya mengajukan izin untuk sekitar 30 unit. Perbedaan angka itu belum dijelaskan secara terbuka.

DataOne menyatakan tidak setuju dengan denda tersebut, dan berencana mengajukan izin sambil beralih ke sel bahan bakar yang lebih bersih. Warga sekitar masih mempertanyakan kualitas udara yang mereka hirup selama ini.

Data center itu memasok listrik untuk alat AI Microsoft seperti Copilot.

Google: kalau di darat sulit, coba di orbit

Jalan ketiga ditempuh Google. Satelit bernama MVP dijadwalkan meluncur 1 Oktober dengan roket Falcon 9 milik SpaceX, sebagai bagian dari Proyek Suncatcher.

MVP bukan data center seperti di Bumi. Ukurannya kira-kira sebesar lemari es dan hanya berisi empat chip AI khusus milik Google (TPU). Gabungan keempatnya setara kemampuan satu server di data center.

Panel surya memasok sekitar satu kilowatt, atau kira-kira sebesar daya pengering rambut. Sistem pendinginnya hanya bisa bekerja sekitar 15 menit, lalu chip harus dimatikan agar radiator mengejar panasnya. Satelit ini akan mengorbit sekitar enam tahun sebelum terbakar di atmosfer.

Google merencanakan dua satelit serupa tahun depan, dengan cita-cita akhir 80 satelit yang terbang berdekatan.

Tapi perusahaan itu sendiri meminta publik menahan ekspektasi. “Kami tidak berharap, terus terang, bahwa kami akan punya sesuatu yang berguna secara operasional dalam beberapa tahun ke depan,” kata James Manyika, Senior Vice President Google.

Biaya peluncurannya juga tidak murah: satu peluncuran Falcon 9 sekitar 74 juta dolar AS.

Bagaimana media lain membingkainya

  • TechCrunch membingkai kasus Oracle sebagai soal kontrak dan jadwal bisnis.
  • CNBC menambahkan dimensi pasar: saham Oracle dan Blue Owl ikut turun.
  • Engadget menyorot sisi sains Suncatcher — radiasi, gangguan bit, dan sistem pendingin yang hanya tahan 15 menit.
  • Ars Technica paling dekat ke sisi regulasi dan warga, dengan laporan panjang soal keluhan komunitas di New Jersey.
  • The Verge memilih jalur opini iklim: mengangkat pernyataan CEO Nvidia Jensen Huang bahwa AI perlu menimbulkan “penderitaan” lebih dulu.

Yang hampir tidak disebut media: ketiga peristiwa ini jarang dibaca sebagai satu pola yang sama.

Angle PagiPagi

Tiga berita di atas sebenarnya satu cerita. Hambatan AI sudah bergeser dari chip ke listrik dan izin.

Perhatikan bahwa solusi yang muncul bukan mengurangi konsumsi. Oracle menunda pembayaran, DataOne berjanji ganti generator, Google pindah ke orbit. Tidak ada yang benar-benar mengurangi kebutuhan energi.

Dan Google — pihak yang paling ambisius di antara ketiganya — adalah yang paling jujur soal batasnya: proyek ini belum akan berguna selama beberapa tahun.

Kenapa ini penting

Bagi pembaca di Indonesia, pola ini menjelaskan dua hal. Pertama, harga layanan AI ditentukan oleh biaya listrik, bukan hanya biaya riset. Kedua, data center AI skala besar menyentuh hal yang sangat lokal: pipa gas, izin lingkungan, dan warga sekitar. Jadi negara yang ingin menarik investasi data center perlu menyiapkan listrik dan izinnya, bukan hanya kawasan industri.

Kesimpulan

AI tumbuh lebih cepat daripada kemampuan dunia menyiapkan listriknya. Selama itu belum berubah, kita akan terus melihat surat force majeure, denda, dan mungkin lebih banyak server yang dikirim ke langit.

SUMBER & RUJUKAN

Jejak sumber berita

  1. [1] TechCrunch — 'Oracle sends force majeure notice on its New Mexico Stargate data center' (24 Sep 2026) — framing: kontrak dan jadwal bisnis, keterlambatan pipa gas, izin kualitas udara — https://techcrunch.com/2026/09/24/oracle-sends-force-majeure-notice-on-its-new-mexico-stargate-data-center/
  2. [2] CNBC — 'Oracle sends force majeure notice about data center project — stock drops 3%' (24 Sep 2026) — framing: dampak pasar, saham Oracle dan Blue Owl turun, utang 18 miliar dolar AS — https://www.cnbc.com/2026/09/24/oracle-data-center-force-majeure.html
  3. [3] Engadget — 'Google is sending a teensy-tiny AI data center to space' (24 Sep 2026) — framing: sisi sains — radiasi, gangguan bit, pendingin yang hanya tahan 15 menit, biaya peluncuran — https://www.engadget.com/2267975/google-is-sending-a-teensy-tiny-ai-data-center-to-space/
  4. [4] Ars Technica — 'New Jersey fines data center $1.1M after drone pics expose 62 gas generators' (24 Sep 2026) — framing: regulasi dan warga, denda terbesar untuk data center di New Jersey — https://arstechnica.com/tech-policy/2026/09/new-jersey-fines-data-center-1-1m-after-satellite-pics-expose-62-gas-generators/
  5. [5] Ars Technica — 'Google's first Suncatcher orbital data center test launches October 1' (24 Sep 2026) — framing: detail teknis satelit MVP, TPU, rideshare Transporter-18 — https://arstechnica.com/google/2026/09/googles-first-suncatcher-orbital-data-center-test-launches-october-1/
  6. [6] The Verge — kolom soal pernyataan CEO Nvidia Jensen Huang tentang AI dan energi (24 Sep 2026) — framing: opini iklim, mengangkat pernyataan Huang bahwa AI perlu menimbulkan 'penderitaan' lebih dulu — https://www.theverge.com/tech/1000140/jensen-huang-nvidia-ai-energy-climate-change-supervillain
Transparansi AI

AI dipakai untuk membantu pemetaan isu dari radar feed, riset awal, dan penyusunan draft, berdasarkan 6 artikel dari 5 media berbeda (TechCrunch, CNBC, Engadget, Ars Technica, The Verge). Istilah teknis seperti force majeure, chip TPU, dan giro wajib minimum dijelaskan dalam bahasa sehari-hari. Foto yang menyertai artikel ini adalah ILUSTRASI buatan AI, bukan dokumentasi peristiwa. Informasi faktual diperiksa editor sebelum publikasi.

Redaksi pagipagi.id

Cara Baru Baca Berita. Kami memisahkan fakta, konteks, analisis, dan opini; mencantumkan sumber penting; serta memperbarui berita jika ada fakta baru atau koreksi.